Kalau boleh marah, rasanya pengen marah kepada Tuhan karena semua ini harus terjadi.
Kalau boleh marah, rasanya pengen marah kepada keadaan karena hal ini harus terjadi.
Kalau boleh marah, rasanya pengen marah kepada kenyataan karena kejadian ini harus terjadi.
Namun, semua tetap akan terjadi kan?
Namun, semua tetap akan terlaksana kan?
Namun, semua tetap akan berlangsung kan?
Tapi bisakah ini direlakan?
Tapi bisakah ini diikhlaskan?
Tapi bisakah melapangkan dada?
Jumat, 30 Agustus 2013
Senin, 15 Juli 2013
Belajar
Belajar adalah proses yang berlangsung terus menerus dalam hidup. Sejak masa kanak-kanak, kita sudah mulai belajar tentang banyak hal. Dimulai dari belajar mengenal lingkungan, belajar berjalan, belajar bicara, sampai akhirnya kita harus memasuki kehidupan sekolah.
Namun, ternyata pembelajaran tidak berhenti ketika kita telah menyelesaikan satu fase dalam hidup tersebut. Kita masih dihadapkan banyak pembelajaran lain dalam hidup setelahnya. Kita mulai belajar yang namanya dunia sesungguhnya, dimana kita dituntut untuk profesional dalam bekerja, dan masih banyak lagi.
Salah satu pembelajaran dalam hidup ini adalah belajar mengikhlaskan seseorang untuk pergi dalam waktu cukup lama dalam kehidupan kita. Kita harus belajar merelakannya pergi untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik. Masa depan bersama.
Mudahkah? Sulit dan sangat sulit. Namun, ketika itu harus terjadi dan untuk kebaikan bersama, kenapa tidak?
Sakit? Sangat sakit. Namun, apa mau dikata kembali? Semua untuk kita bersama juga.
Setelah kita dapat melewati sedikit pembelajaran dari hidup tersebut, di depan mata akan ada banyak pembelajaran-pembelajaran yang lainnya. Belajar tentang kehidupan akan berakhir ketika kita telah menyelesaikan semua fase dalam hidup kita.
Namun, ternyata pembelajaran tidak berhenti ketika kita telah menyelesaikan satu fase dalam hidup tersebut. Kita masih dihadapkan banyak pembelajaran lain dalam hidup setelahnya. Kita mulai belajar yang namanya dunia sesungguhnya, dimana kita dituntut untuk profesional dalam bekerja, dan masih banyak lagi.
Salah satu pembelajaran dalam hidup ini adalah belajar mengikhlaskan seseorang untuk pergi dalam waktu cukup lama dalam kehidupan kita. Kita harus belajar merelakannya pergi untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik. Masa depan bersama.
Mudahkah? Sulit dan sangat sulit. Namun, ketika itu harus terjadi dan untuk kebaikan bersama, kenapa tidak?
Sakit? Sangat sakit. Namun, apa mau dikata kembali? Semua untuk kita bersama juga.
Setelah kita dapat melewati sedikit pembelajaran dari hidup tersebut, di depan mata akan ada banyak pembelajaran-pembelajaran yang lainnya. Belajar tentang kehidupan akan berakhir ketika kita telah menyelesaikan semua fase dalam hidup kita.
Kamis, 11 Juli 2013
Menikah dan Pernikahan
"Pernikahan itu bukan cepat-cepatan. Pernikahan itu lama-lamaan. Seberapa lama Anda dapat mempertahankannya." -Hitam Putih-
Menikah adalah sebuah komitmen untuk hidup bersama selamanya. Menikah adalah sebuah keputusan yang diambil bukan karena paksaan dari pihak lain. Keputusan ini haruslah diambil bukan berdasarkan "nafsu" semata.
Menikah membutuhkan sebuah kematangan secara fisik dan mental. Mengapa? Karena setelah menikah, sepasang manusia ini akan keluar dari rumahnya dan membentuk sebuah keluarga sendiri yang lebih sering diumpakan sebagai bahtera.
Pada masa kini, kita sering mendengar anak-anak dengan umur belasan tahun sudah menikah. Apakah mereka telah memiliki kematangan secara mental? Bagaimana mereka menghadapi suatu permasalahan yang cukup berat? Apakah mereka telah siap?
Menikah bukanlah seperti halnya berpacaran yang jika tidak cocok dapat berpisah dengan mudahnya dan mencari seseorang yang lain. Menikah itu hanya sekali untuk selamanya. Meskipun dapat bercerai, tetapi apakah itu adalah suatu penyelesaian? Menyelesaikan masalah dengan perceraian dapat menimbulkan masalah baru. Dan hal ini membuktikan bahwa seseorang itu belum layak untuk menikah.
Pernikahan adalah sebuah upacara yang diadakan untuk memberitahukan bahwa sepasang manusia telah menikah. Pernikahan dapat dibuat semeriah apapun semampu kita. Namun apabila semua tabungan habis hanya untuk sebuah acara sehari, apakah itu layak?
Thing again. Stop pernikahan dini! Belajar dan bekerjalah untuk meraih masa depan yang lebih baik dan bahagia.
Rabu, 03 Juli 2013
Sebuah Penantian
Pagi ini, tiba-tiba telpon pun berdering. Terkejut? Pasti! Siapa yang menelpon sepagi ini. Ingin rasanya tak ku hiraukan telpon yang berdering itu. Ini belum jam kerjaku! Ini masih terlalu pagi untuk aku bekerja. Namun, aku paksakan juga untuk mengangkat telpon itu. Ternyata benar, dari bos di kantor.
"Ya, halo." sapaku kala itu.
"Kamu nanti gantikan saja untuk meeting jam 11 di kantor pusat ya. Jangan lupa. Kita mau ngomongi untuk acara besok. Kamu besok juga harus hadir menggantikan saja," kata orang di seberang telpon.
"Oke." jawabku sambil melirik jam di laptopku.
Oke, aku harus bergegas sekarang. Sudah tidak ada waktu. Perjalananku masih panjang dan aku tidak mau terlambat. Memalukan kantor saja kalau aku harus terlambat karena kurang persiapan waktu. Akhirnya, taxi pun ku hubungi agar dapat mengantarku hingga ke tujuan. Semua persiapan pun kulakukan supaya aku dapat bergegas berangkat.
"Oke, siap! Tinggal menunggu taxi." kataku dalam hati. Semoga hari ini sesuai rencana, jangan seperti kemarin.
Tak berapa lama, aku memutuskan untuk menunggu taxiku datang di bawah. Ternyata taxi ku sudah datang dan menunggu. Aku pun segera berbegas untuk berlalu dari tempat tinggalku. Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada security yang membukakan pintu, aku dan taxiku pun berlalu.
"Akh, perjalanan yang panjang dan melelahkan." kataku dalam hati sambil menguap.
Aku pun terus memperhatikan jalan yang dilalui oleh taxiku. Mungkin karena belum pernah melewatinya, aku pun bingung dan hendak bertanya. Namun dorongan itu tidak pernah kulakukan. Terus terang, aku malas berurusan dengan supir taxi ini. Aku menganggapnya kurang tau jalan. Aku sendiri pun tidak terlalu mengetahui jalan-jalan menuju kantor pusat. Ya sudah, biarkanlah dia dengan jalannya.
60 menit kemudian, taxiku pun sampai di tempat tujuan. Aku pun turun dan mengucapkan terima kasih. Waktu masih menunjukkan jam 10 lebih-lebih sedikit. Masih belum terlambat datang ke rapat kali ini. Aku senang karena tidak terlambat. Namun, yang aku terima ternyata lebih mengejutkan.
"Rapatnya dimulai setelah jam 1 ya, mbak." kata receptionist yang menerimaku.
"APAAAAA?????" kaget dan tidak dapat berkata apa-apa, itulah yang dapat kulakukan. Akhirnya, aku hanya dapat menanti dan menanti.
Sebuah penantian waktu hingga beberapa jam mendatang.
"Ya, halo." sapaku kala itu.
"Kamu nanti gantikan saja untuk meeting jam 11 di kantor pusat ya. Jangan lupa. Kita mau ngomongi untuk acara besok. Kamu besok juga harus hadir menggantikan saja," kata orang di seberang telpon.
"Oke." jawabku sambil melirik jam di laptopku.
Oke, aku harus bergegas sekarang. Sudah tidak ada waktu. Perjalananku masih panjang dan aku tidak mau terlambat. Memalukan kantor saja kalau aku harus terlambat karena kurang persiapan waktu. Akhirnya, taxi pun ku hubungi agar dapat mengantarku hingga ke tujuan. Semua persiapan pun kulakukan supaya aku dapat bergegas berangkat.
"Oke, siap! Tinggal menunggu taxi." kataku dalam hati. Semoga hari ini sesuai rencana, jangan seperti kemarin.
Tak berapa lama, aku memutuskan untuk menunggu taxiku datang di bawah. Ternyata taxi ku sudah datang dan menunggu. Aku pun segera berbegas untuk berlalu dari tempat tinggalku. Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada security yang membukakan pintu, aku dan taxiku pun berlalu.
"Akh, perjalanan yang panjang dan melelahkan." kataku dalam hati sambil menguap.
Aku pun terus memperhatikan jalan yang dilalui oleh taxiku. Mungkin karena belum pernah melewatinya, aku pun bingung dan hendak bertanya. Namun dorongan itu tidak pernah kulakukan. Terus terang, aku malas berurusan dengan supir taxi ini. Aku menganggapnya kurang tau jalan. Aku sendiri pun tidak terlalu mengetahui jalan-jalan menuju kantor pusat. Ya sudah, biarkanlah dia dengan jalannya.
60 menit kemudian, taxiku pun sampai di tempat tujuan. Aku pun turun dan mengucapkan terima kasih. Waktu masih menunjukkan jam 10 lebih-lebih sedikit. Masih belum terlambat datang ke rapat kali ini. Aku senang karena tidak terlambat. Namun, yang aku terima ternyata lebih mengejutkan.
"Rapatnya dimulai setelah jam 1 ya, mbak." kata receptionist yang menerimaku.
"APAAAAA?????" kaget dan tidak dapat berkata apa-apa, itulah yang dapat kulakukan. Akhirnya, aku hanya dapat menanti dan menanti.
Sebuah penantian waktu hingga beberapa jam mendatang.
Membunuh Waktu
Waktu berjalan seiring dengan naluri yang berlalu.
Waktu berlalu selayaknya dia berjalan.
Manusia seringkali mengejar waktu
Ingin menguasai waktu.
Bahkan tidak jarang manusia ingin menaklukkan waktu.
Namun, siapa manusia?
Siapa yang dapat membunuh sang waktu?
Waktu berlalu dengan jalannya sendiri.
Waktu berjalan dengan harapnya sendiri.
Manusia hanya makhluk kecil.
Manusia tidak dapat dibandingkan dengan sang waktu.
Manusia tidak dapat membunuh waktu.
Manusia hanya dapat membuang waktu.
Atau memanfaatkannya dengan maksimal.
Siapa manusia?
Siapa yang dapat membunuh sang waktu?
Waktu berlalu tanpa mengenal sekelilingnya
Waktu berjalan tanpa mengenal lelah.
Waktu berlalu selayaknya dia berjalan.
Manusia seringkali mengejar waktu
Ingin menguasai waktu.
Bahkan tidak jarang manusia ingin menaklukkan waktu.
Namun, siapa manusia?
Siapa yang dapat membunuh sang waktu?
Waktu berlalu dengan jalannya sendiri.
Waktu berjalan dengan harapnya sendiri.
Manusia hanya makhluk kecil.
Manusia tidak dapat dibandingkan dengan sang waktu.
Manusia tidak dapat membunuh waktu.
Manusia hanya dapat membuang waktu.
Atau memanfaatkannya dengan maksimal.
Siapa manusia?
Siapa yang dapat membunuh sang waktu?
Waktu berlalu tanpa mengenal sekelilingnya
Waktu berjalan tanpa mengenal lelah.
Jumat, 28 Juni 2013
Arti Sebuah "Persahabatan"
"Friendship isn’t a big thing – it’s a million little things." -Author Unknown-
"If you have good friends, no matter how much life is sucking, they can make you laugh." -P.C. Cast-
"We need old friends to help us grow old and new friends to help us stay young" -Letty Cottin Pogrebin-
Memiliki teman memang merupakan suatu hal yang sangat berharga dalam hidup. Memiliki banyak teman merupakan suatu anugrah yang tak pernah tergantikan. Namun, memiliki sahabat, lebih berharga daripada apapun.
Teman dapat saja datang dan pergi dalam hidup. Teman, bisa saja ada pada saat-saat mereka membutuhkan pertolongan kita. Namun, sahabat lebih daripada itu.
Seorang sahabat, rela menyediakan waktunya ketika kita sedang membutuhkan bahunya. Seorang sahabat juga rela menyediakan telinganya ketika kita sedang mengeluh. Bahkan seorang sahabat merelakan mulutnya untuk menasehati ketika kita sedang "salah jalan".
Seorang sahabat yang baik, tidak hanya meng-iya-kan apa yang kita inginkan. Mereka dapat memberikan saran dan masukan agar kita tidak salah langkah. Meskipun seringkali menyakitkan, seorang sahabat yang baik tidak berniat untuk menyesatkan kita. Mereka memberikan pandangan yang lain tentang suatu hal agar kita memiliki pemikiran yang lain.
Jadi, bersyukurlah ketika kita memiliki seorang sahabat, bahkan lebih.
Jumat, 14 Juni 2013
Awal dan Akhir
Disadari atau tidak, setiap ada awal selalu akan ada akhir. Setiap ada pertemuan, pasti akan ada perpisahan di ujung jalan. Setiap ada kebersamaan, pasti akan ada akhir dari kebersamaan tersebut. Demikianlah semuah kehidupan yang akan dijalani.
Ingin selalu bersama dan tidak berpisah? Pasti semua orang menginginkan hal tersebut. Namun, apakah gunanya kenangan apabila selalu bersama? Kita tetap bisa mengulang moment setiap saat apabila masih bersama. Oleh karena itu, sekira akhir dan kenangan diciptakan agar kita tidak merasa sedih apabila kebersamaan itu berakhir.
Hal ini tidak hanya terjadi pasa sebuah hubungan yang melibatkan perasaan pada dua orang saja. Dalam hubungan pertemanan dan persahabatan pun akan terjadi hal-hal ini. Paling mudah diingat adalah sebuah perpisahan apabila kita telah menyelesaikan suatu study. Pasti kita akan terpencar-pencar dan mendapatkan teman dan kehidupan yang baru yang belum tentu bersama dengan teman-teman dekat kita. Nah, oleh karena itu, kenangan ini ada agar kita tidak melupakan satu sama lainnya.
Ingin selalu bersama dan tidak berpisah? Pasti semua orang menginginkan hal tersebut. Namun, apakah gunanya kenangan apabila selalu bersama? Kita tetap bisa mengulang moment setiap saat apabila masih bersama. Oleh karena itu, sekira akhir dan kenangan diciptakan agar kita tidak merasa sedih apabila kebersamaan itu berakhir.
Hal ini tidak hanya terjadi pasa sebuah hubungan yang melibatkan perasaan pada dua orang saja. Dalam hubungan pertemanan dan persahabatan pun akan terjadi hal-hal ini. Paling mudah diingat adalah sebuah perpisahan apabila kita telah menyelesaikan suatu study. Pasti kita akan terpencar-pencar dan mendapatkan teman dan kehidupan yang baru yang belum tentu bersama dengan teman-teman dekat kita. Nah, oleh karena itu, kenangan ini ada agar kita tidak melupakan satu sama lainnya.
Langganan:
Postingan (Atom)

